Pages

Kamis, 13 September 2012

Angka Bunuh Diri Pelajar Jepang Capai Rekor Tertinggi Tahun 2011


 school board press conference for Ootsu’s suicide
 Jumlah anak sekolah dari SD hingga SMA yang melakukan tindakan bunuh diri di Jepang pada tahun fiskal 2011 meningkat 44 dari tahun sebelumnya menjadi 200, angka tertinggi dalam 25 tahun, menurut sebuah survei yang dirilis oleh kementerian pendidikan pada hari Selasa kemarin.
Empat dari mereka, semua merupkan siswa SMP, melakukan tindakan bunuh diri karena ditindas (bullying). Sementara untuk dua kasus bunuh diri yang banyak disorot tahun lalu, seorang anak berusia 13 tahun di sebuah SMP di Otsu, Prefektur Shiga dan anak SMP berusia 14 tahun di Yatsushiro, Prefektur Kumamoto, dewan pendidikan setempat melaporkan pada kementerian pendidikan bahwa kematian mereka disebabkan oleh penindasan, namun kementerian belum mengungkapkan detilnya. Alasan berbagai tindakan bunuh diri masih belum diketahui pada sebanyak 115 kasus, atau sebesar 57,5% dari total kasus yang terjadi, namun para pejabat kementerian mengatakan bahwa laporan dari sekolah tidak mengindikasikan bahwa tindakan bunuh diri yang berasal dari penindasan meningkat. Badan Kepolisian Nasional telah melaporkan bahwa sebanyak 353 siswa melakukan tindakan bunuh diri pada kalender 2011, 153 kasus lebih banyak dari yang ada pada survei fiskal 2011 milik kementerian pendidikan. Perbedaan itu terjadi karena kementerian tidak menghitung kasus yang detilnya tidak dilaporkan oleh kepolisian atau kasus dimana keluarga korban tidak ingin kasusnya dilaporkan. Pada tahun fiskal 2011, angka pelajar SMA yang mengakhiri hidup mereka sendiri adalah sebanyak 157, naik 45 dari tahun sebelumnya, menurut kementerian pendidikan. Tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar SMP turun empat menjadi 39, sementara itu empat anak SD mengakhiri hidupnya, naik dengan angka tiga. Hampir semua korban bunuh diri dilaporkan tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala yang tidak biasa menjelang kematian mereka, menurut survei tersebut. Untuk lebih dari 70% kasus bunuh diri pelajar SD dan SMP penyebabnya tidak dapat ditentukan. Survei tersebut menemukan bahwa jumlah kasus penindasan yang diketahui oleh sekolah-sekolah pada tahun fiskal 2011 berjumlah sekitar 70.000, turun sekitar 7.400 dari tahun sebelumnya. Bagaimanapun juga, sulit untuk membuktikan apakah angka tersebut benar-benar turun karena banyak cara-cara baru penindasan menggunakan sarana internet dan ponsel yang menyebabkan sulit untuk dideteksi. Jumlah kasus penindasan yang diketahui dan diakui oleh sekolah-sekolah mencapai sebanyak 33.000 di sekolah dasar, turun 10%, 30.000 di SMP, turun 8%, dan 6.000 di SMA, turun 14%. sumber : aramatheydidnt.livejournal.com

0 komentar:

Poskan Komentar